Salam Kenal
Halo, nama saya Kukuh dan ini blog pertama saya
1. 1. Guru
sebagai seorang professional membutuhkan organisasi, mengapa?
Jawab:
Karena
ketika guru sudah berorganisasi, guru akan mengenal latar masing-masing
anggotanya. Dengan mengenal latar anggota, guru akan memahami karakteristik
personalia. Ketika menghadapi anggota yang berasal dari ekonomi bawah atau
pendidikan rendah, guru bisa menjaga bahasa agar tidak bertutur dengan bahasa
yang menyakitkan anggota. Jika guru sudah terbiasa berorganisasi, peserta didik
di kelas akan merasa nyaman karena gurunya tidak bertindak diskriminatif karena
berbeda latar ekonomi, budaya, agama, sosial, pendidikan dan lain-lain.
(https://www.kompasiana.com/johanmenulisbuku/54f944eba3331178178b4879/pentingnya-guru-berorganisasi)
2. 2. Bagaimana
selayaknya seorang guru jika mengaku dirinya seseorang yang professional?
Jawab:
Seorang
guru bisa dikatakan sebagai seorang profesional yang sejatinya apabila dia
memiliki latar belakang pendidikan sekurang-sekurangnya setingkat
sarjana. Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa untuk
dapat memangku jabatan guru minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1. Ketentuan
ini telah memacu para guru untuk berusaha meningkatkan kualiafikasi
akademiknya, baik atas biaya sendiri maupun melalui bantuan bea siswa
pemerintah. Walaupun, dalam beberapa kasus tertentu ditemukan ketidakselarasan
dan inkonsistensi program studi yang dipilihnya. Misalnya, semula dia berlatar
belakang D3 Bimbingan dan Konseling tetapi mungkin karena alasan-alasan
tertentu yang sifatnya pragmatis, dia malah melanjutkan studinya pada program
studi lain.
Terkait
dengan kriteria kedua, guru adalah seorang ahli. Sebagai seorang ahli,
maka dalam diri guru harus tersedia pengetahuan yang luas dan mendalam
(kemampuan kognisi atau akademik tingkat tinggi) yang terkait dengan substansi
mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Dia harus sanggup mendeskripsikan,
menjelaskan, memprediksi dan mengendalikan tentang berbagai fenomena yang
berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya. Misalnya, seorang guru
Biologi harus mampu menjelaskan, mendeskripsikan, memprediksikan dan
mengendalikan tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan Biologi,
walaupun dalam hal ini mungkin tidak sehebat ahli biologi (sains).
Selain
memiliki pengetahuan yang tinggi dalam substansi bidang mata pelajaran yang
diampunya, seorang guru dituntut pula untuk menunjukkan keterampilannya secara
unggul dalam bidang pendidikan dan pembelajaran (kemampuan pedagogik), seperti:
keterampilan menerapkan berbagai metode dan teknik pembelajaran, teknik
pengelolaan kelas, keterampilan memanfaatkan media dan sumber belajar, dan
sebagainya. Keterampilan pedagogik inilah yang justru akan membedakan guru
dengan ahli lain dalam bidang sains yang terkait. Untuk memperoleh keterampilan
pedagogik ini, di samping memerlukan bakat tersendiri juga diperlukan latihan
secara sistematis dan berkesinambungan.
Kriteria
ketiga, lebih dari itu, seorang guru tidak hanya sekedar unggul dalam
mempraktikkan pengetahuanya tetapi juga mampu menuliskan (literary skills)
segala sesuatu yang berhubungan bidang keilmuan (substansi mata pelajaran) dan
bidang yang terkait pendidikan dan pembelajaran, misalnya kemampuan membuat
laporan penelitian, makalah, menulis buku dan kegiatan literasi lainnya. Inilah
kriteria yang ketiga dari seorang profesional.
Kriteria
keempat, seorang guru dikatakan sebagai profesional yang sejatinya manakala
dapat bekerja dengan kualitas tinggi. Pekerjaan guru termasuk dalam bidang jasa
atau pelayanan (service). Pelayanan yang berkualitas dari seorang guru
ditunjukkan melalui kepuasan dari para pengguna jasa guru yaitu siswa.
Kepuasaan
utama siswa selaku pihak yang dilayani guru terletak pada pencapaian prestasi
belajar dan terkembangkannya segenap potensi yang dimilikinya secara optimal
melalui proses pembelajaran yang mendidik. Untuk bisa memberikan kepuasan ini
tentunya dibutuhkan kesungguhan dan kerja cerdas dari guru itu sendiri.
Kritera
terakhir, seorang guru dikatakan sebagai seorang profesional yang
sejati apabila dia dapat berperilaku sejalan dengan kode etik
profesi serta dapat bekerja dengan standar yang tinggi. Beberapa produk
hukum kita sudah menggariskan standar-standar yang berkaitan dengan tugas
guru. Guru profesional yang sejatinya tentunya tidak hanya sanggup
memenuhi standar secara minimal, tetapi akan mengejar standar yang lebih
tinggi. Termasuk dalam kriteria yang kelima adalah membangun rasa kesejawatan
dengan rekan seprofesi untuk bersama-sama membangun profesi dan menegakkan kode
etik profesi.
3. 3. Jelaskan
hubungan antara PGRI sebagai sebuah organisasi profesi guru dan anggotanya
dalam hak dan kewajiban jika dilihat dari teori kebutuhan Maslow!
Jawab:
Hubungan Guru dengan Organisasi Profesinya
(PGRI) :
·
Guru
menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam
melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.
·
Guru
memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang memberikan manfaat bagi
kepentingan kependidikan.
·
Guru
aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan
komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.
·
Guru
menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-
tugas organisasi profesi dan bertanggung-jawab atas konsekuensinya.
tugas organisasi profesi dan bertanggung-jawab atas konsekuensinya.
·
Guru
menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab,
inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional
lainnya.
·
Guru
tidak melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan
martabat dan eksistensi organisasi profesinya.
·
Guru
tidak mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan
pribadi dari organisasi profesinya.
·
Guru
tidak menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa
alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari hubungan diatas
terlihat bahwa kebutuhan tersusun secara hirarkis dan kebutuhan puncak atau
akhir yang dibutuhkan seseorang adalah bentuk aktualisasi.
4. 4. Jelaskan
bagaimana seorang menumbuhkan profesionalisme kerjanya!
Jawab:
Untuk
menjadi seseorang yang professional bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah
Anda lakukan karena untuk mencapai professionalisme itu perlu suatu usaha yang
keras. Hal itu disebabkan oleh ukuran profesionalitas seseorang tentu akan
dilihat dari kedua sisinya, yaitu sisi teknis keterampilah atau keahlian yang
dimiliki oleh orang yang bersangkutan serta hal-hal yang berkaitan dengan
watak, sifat dan kepribadiannya.
Menurut
E.Widijo Hari Murdoko, S.Psi setidaknya terdapat delapan syarat yang wajib
dimiliki oleh seseorang apabila orang tersebut ingin menjadi seorang
professional, yaitu:
·
Menguasai
Pekerjaan
Seseorang
yang layak untuk disebut sebagai seorang professional ketika mereka tahu dengan
jelas apa yang akan dan harus mereka kerjakan. Ilmu mengenai pekerjaanya ini
wajib bisa dibuktikan dengan hasil yang akan dicapai nanti. Seseorang yang
memiliki sifat profesioanl maka bukan hanya pintar dalam memainkan kata-kata
secara teoritis namun juga wajib bisa mempraktikannya di dalam kehidupan yang
nyata. Mereka menggunakan ukuran-ukuran yang jelas, apakah yang mereka
pekerjakan berhasil ataupun tidak.
·
Mampu
Bekerja Keras
Seseorang
yang memiliki professionalisme maka sesungguhnya mereka sanggup dalam
bekerja keras saat menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Seseorang yang
bekerja keras juga sebenarnya hanya orang biasa yang memiliki keterbatasan dan
kelemahan. Namun mereka berusaha untuk menjalin kerjasama dengan orang banyak
tanpa pandang bulu. Mereka berusaha untuk membuka dirinya agar dapat menerima
siapapun yang menginginkan kerjasama dengannya. Tentunya mereka tidak akan
merasa turun harga diri apabila mengharuskan untuk bekerjasama dengan rang lain
meskipun orang tersebut memiliki status yang lebih rendah dari dirinya. Karena
dia merasa kesuksesan dapat dicapai apabila bisa memperluas hubungan kerjasama
dengan siapapun, dimanapun, kapanpun.
·
Loyalitas
Bagi
seseorang yang professional maka loyalitas merupakan bersikap total pada saat
melakukan pekerjaannya. Maksudnya adalah apapun yang mereka kerjakan akan dilandasi
dengan rasa ikhlas dalam mengerjakannya. Mereka yang memiliki sikap
professional pasti mempunyai prinsip hidup yang kuat dan jelas, salah satunya
yaitu apa yang akan dikerjakan bukanlah menjadi beban untuknya namun merupakan
panggilan hidup dalam memberikan manfaat untuk orang lain. Oleh karena itu,
loyalitas akan memberikan suatu kekuatan agar dapat bisa lebih berkembang dan
selalu mencari sesuatu yang baik untuk pekerjaannya tanpa menunggu diperintah
orang lain. Karena dengan adanya loyalitas mereka pasti akan berusaha untuk
berpikir proaktif, artinya selalu berusaha mengantisipasi supaya hal yang tidak
diinginkan tidak terjadi.
·
Integritas
Prinsip
dasar bagi seseorang yang professional yaitu memiliki nilai kejujuran dan
keadilan. Dengan adanya integritas maka seseorang yang professional akan
memiliki tingkat kesadaran diri bahwa sesungguhnya dalam melakukan pekerjaan,
suara hati dan hati nurani harus tetap menjadi dasar dalam mewujudkan
tujuannya. Oleh karena itu bukanlah suatu hal yang berlebihan apabilan untuk
menjadi seorang professional tidaklah cukup hanya pintar secara intelektual
namun juga harus pintar dari sisi mental dan emosional. Akan lucu ketika
seseorang mengaku sebagai professional namun nyatanya dia adalah seorang
koruptor atau manipulator.
·
Visi
Seseorang
yang memiliki sifat professional tentu harus mempunyai visi yang jelas akan
masa depannya. Karena visi dapat dianggap sebagai peta jalan untuk menuju masa
depan yang akan menjadi landasan dalam bersikap dan berperilaku untuk mencapai
tujuan atau target yang diinginkan. Dengan adanya visi yang jelas maka
seseorang yang memiliki sikap professional akan memiliki rasa tanggung jawab
karena sebelumnya telah memikirkan dengan matang apa yang akan dilakukannya.
Selain itu, visi yang jelas juga akan memacunya agar dapat menghasilkan
prestasi yang maksimal sekaligus ukuran yang jelas tentang keberhasilan serta
kegagalan yang akan di capai. Apabila gagal maka dia tidak akan mencari kambing
hitam atas kegagalannya namun secara dewasa akan mengambil alih sebagai
tanggung jawab profesi bahkan pribadinya.
·
Kebanggan
Apabila
Anda memiliki sikap professional maka tentu Anda akan mempunyai rasa bangga
terhadap profesi Anda. Karena dengan memiliki rasa bangga terhadap pekerjaan
yang Anda miliki maka akan menumbuhkan rasa cinta terhadap pekerjaan itu
sehingga akan memiliki komitmen yang tinggi terhadap apa yang sedang di
kerjakan.
·
Komitmen
Dia yang
memiliki sikap professional tentunya harus mempunyai komitmen yang kuat agar
dapat menjaga sikap professional tersebut. Sehingga dia tidak kan mudah digoda
dengan bujuk rayu yang nanti bisa menghancurkan nilai-nilai profesinya. Di
dalam membentuk komitmen yang kuat membutuhkan konsistensi dalam mempertahankan
nilai-nilai profesionalisme tersebut karena tanpa ada konsistensi maka
seseorang tentu akan merasa sulit dalam menjadikan dirinya sebagai seorang yang
professional.
·
Motivasi
Saat
berada di dalam kondisi apapun, seseorang yang memiliki sikap professional
tentu harus tetap memiliki rasa semangat dalam melakukan apa yang akan menjadi
tanggung jawabnya. Maksudnya seburuk apapun kondisi dan situasinya maka dia
harus mampu dalam memotivasi dirinya agar tetap bisa memberikan hasil yang
maksimal tanpa kenal menyerah. Anda harus bisa menjadi motivator diri Anda
sendiri supaya bisa membangkitka semangat diri Anda di setiap kondisi yang Anda
hadapi. Selain itu Anda juga harus bisa menyemangati lingkungan sekitar Anda.
Anda harus paham waktu dan moment seperti apa ketika Anda harus memberikan
motivasi untuk diri Anda sendiri dan lingkungan sekitar Anda.
Komentar
Posting Komentar